Pagi itu cerah, mentari menyambut hangat seluruh penghuni Bumi seakan membangunkan secara perlahan para manusia yang masih asik bergelung untuk merajut mimpi.
“Tuan Harris, bangun tuan sudah siang!” sahut seorang wanita paruh baya yang berstatus sebagai kepala pelayan di rumah besar bak istana ini.
“Iya bi,” sahut pemuda berusia tujuh belas tahun bernama lengkap Harris Leemantara itu sambil merenggangkan badannya.
“Sarapan sudah siap tuan,” kata kepala pelayan itu lagi sedangkan Harris hanya menangguk setelah mengucapkan terima kasih. Lalu kepala pelayan tersebut pamit untuk undur diri sedangkan Harris bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya.
(-)
“Pagi Harris!”
“Harris apa kabar?”
“Harris hari ini ada PR fisika, sudah mengerjakan belum?”
“Selamat pagi Kak Harris!”
Sepanjang koridor sekolah tak henti-hentinya Harris menebar senyuman pada setiap orang yang menyapa nya. Sungguh pagi yang indah bukan? Terlebih jika kau menjadi Harris, pemuda kaya raya, pintar, baik hati, dan juga tampan.
“Harris!” panggilan itu membuat Harris yang baru saja duduk di bangkunya menoleh.
“Iya, Do?” respon Harris pada Dodo, salah satu teman akrabnya.
“Kamu pasti sudah kerja PR fisika kan? Bagi dong, aku kemarin begadang ngerjain hal penting. Jadi tidak sempat mengerjakan PR,” kata Dodo memelas.
“Hal penting apa nya? Main game? Itu yang kamu sebut penting?” decih Harris mendengar perkataan temannya.
“Jadi mau meminjamkan PR nya tidak?” Dodo tidak mau beradu mulut dengan Harris karena ia pasti kalah.
“Kalau aku bilang tidak mau bagaimana?” goda Harris.
“Ya jangan! Harus boleh!” paksa Dodo.
“Ya sudah, ambil saja sendiri. Aku ingin ke toilet sebentar,” Harris berdiri meninggalkan bangkunya untuk menuju toilet meninggalkan Dodo yang dengan secepat kilat mengambil buku tulis Harris dan menyalin jawabannya.
(-)
Harris mencuci tangannya di wastafel, keadaan toilet sekolah sedang sepi karena sebentar lagi bel pelajaran akan berbunyi. Harris mematikan kran wastafel ketika dia selesai mencuci tangan nya. Ketika ia berniat mengaca pada cermin sekolah, ternyata selama ini dia tidak sendirian, terdapat seorang pemuda lain ada dibelakangnya, tepatnya sedang menyender ke pintu kamar mandi, pemuda itu menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
“Oh, mau cuci tangan ya? Silakan,” kata Harris ramah sedangkan pemuda itu tetap mempertahankan muka datarnya.
“Saya pamit dulu ya. Bel sudah mau berbunyi hehe,” ucap Harris lagi canggung, padahal dia tidak perlu berpamitan dengan seseorang yang baru pertama kali ia lihat ini.
“Kamu Harris ya?” kata pemuda tanpa ekspresi tadi yang membuat Harris tidak jadi melangkahkan kaki, Harris terdiam.
“Iya. Tau dari mana ya nama saya? Soalnya saya baru pertama kali lihat kamu di sini,” Harris mengerutkan keningnya bingung, perasaan nya was-was.
“Anak-anak lain pada ngomongin kamu. Saya tahu dari mereka,” jawab pemuda itu membuat perasaan was-was dalam diri Harris luntur seketika. Memang seterkenal itu Harris di sekolah ini.
“Kala-“
Kringg…
Ucapan Harris terputus karena bel sekolah yang berbunyi dengan nyaring.
“Bel sudah berbunyi. Kamu tidak mau ke kelas? Masa panutan sekolah telat sih?” ucap pemuda datar itu dengan nada sarkas. Membuat Harris mengerut merasa tersinggung sedikit namun ia tak membalas pemuda tersebut dan memilih untuk berlari ke kelasnya.
(-)
“Untung saja, aku bisa nyalin jawaban nya dengan cepat hehe. Makasih ya, Ris!” ucap Dodo ketika Harris duduk di bangkunya kembali, untung saja Harris tidak terlambat.
“Do! Ngomong-ngomong kamu tahu siswa yang bernama Evan Clarisson?” tanya Harris tiba-tiba.
“Evan? Kelas berapa?” bukannya menjawab Dodo malah balik bertanya. Harris menggelengkan kepalanya, “tapi rasanya dia seumuran kita.”
“Seingatku ya, siswa siswi angkatan kita yang huruf namanya E hanya ada tiga. Elang, Eunike, Emily. Selain itu tidak ada,” jawab Dodo membuat Harris mengangguk-anggukan kepalanya lalu tidak berkata apa-apa lagi karena guru fisikanya sudah datang.
“Laki-laki tadi murid baru?” pikir Harris mengingat muka datar pemuda tadi.
(-)
Harris melangkahkan kakinya menuju atap sekolah meninggalkan pelajaran kimia kesukaan nya, entah mengapa hari ini ia tidak terlalu bersemangat seperti hari-hari biasanya. Semenjak pertemuannya dengan pemuda tadi pagi, hatinya merasakan ada suatu kejanggalan. Namun ia tidak mengerti apa itu.
“Loh! Anak kesayangan para guru membolos?” sahut seseorang membuat Harris yang sedang menikmati pemandangan kota terkejut pelan. Ia menoleh dan lagi-lagi mendapati pemuda berwajah datar dengan name tag Evan Clarisson yang tersemat di bajunya.
“Memangnya aku tidak boleh membolos ya?” Harris menyahuti perkataan Evan.
Evan hanya mengendikkan bahunya acuh, “kaget saja. Anak kebanggaan sekolah kok membolos,” katanya dengan nada sarkas.
Harris mengepalkan tangan nya, ia merasa jabatan yang ia peroleh dengan susah payah diremehkan oleh pemuda yang baru ia lihat pagi ini.
“Sudah tidak usah emosi,” kata Evan lagi lalu mengambil tempat duduk di sebelah Harris. Harris mendecih dan memilih untuk menggeser tubuhnya untuk duduk menjauh dari Evan.
“Mau?” Evan menyodorkan sekotak minuman susu rasa stroberi ke Harris sedangkan tangan yang satunya menggenggam minuman susu rasa cokelat.
“Tidak. Tidak suka rasa stroberi, suka rasa cokelat,” tolak Harris. Hal tersebut membuat Evan tersenyum tipis.
“Kalau begitu kamu yang rasa cokelat. Aku yang rasa stroberi,” Evan menaruh kotak susu rasa cokelat tersebut ke tangan Harris.
Harris yang menerimanya hanya menggumamkan kata terima kasih dengan pelan, yang mungkin tidak dapat didengar oleh Evan.
“Masih sama seperti dulu,” gumam Evan pelan namun masih tertangkap jelas oleh indra pendengaran Harris.
“Hm?” respon Harris disela-sela kegiatannya menyedot minuman nya.
“Tidak, bukan apa-apa.”
“Di saat-saat seperti ini, bisa-bisanya aku teringat masa-masa kecilku,” Harris mengukir senyum samar sambil memandang pemandangan yang ada di depan nya dengan tenang.
“Masa kecil yang begitu indah. Di mana ayah dan ibu selalu punya waktu untukku, di mana ada sahabat yang selalu menemaniku bermain dan belajar. Sebelum bencana gunung meletus itu, hidupku sangat damai. Namun saat ini aku kehilangan ibuku, ayahku sibuk mencari uang mati-matian untuk kehidupan kita-“ Harris menjeda ucapan nya sejenak, matanya sudah berair.
“-dan aku kehilangan sahabatku yang paling berharga,” ucap Harris menoleh pada Evan yang kebetulan Evan juga menatap Harris.
“Nih! Tidak usah nangis, nanti dilihat orang dikira aku berbuat jahat ke kamu,” kata Evan menyodorkan tisu untu Harris yang dengan senang hati diterima olehnya.
“Tapi tak apa. Itu semua hanya bagian dari masa lalu yang akan terus ku kenang dalam hati,” ucap Harris setelah mengusap air matanya.
“Kenapa tiba-tiba bercerita?” gumam Evan bertanya. Harris yang menyadari hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya, otaknya juga bertanya mengapa dia tiba-tiba menjadi terbuka seperti ini dengan Evan, orang yang baru ia temui tadi pagi. Bahkan ia menangis di depan orang asing. Untuk bercerita kepada teman-teman nya yang lain bahkan kepada bibi di rumahnya saja sulit.
“Tidak tahu. Ingin saja hehe,” jawab Harris sambil menyunggingkan senyum manisnya. Membuat Evan mau tak mau juga ikut tersenyum.
“Senyum yang benar itu seperti ini,” kata Evan sambil menunjuk muka Harris.
“Memangnya ada senyum yang tidak benar ya? Setiap senyum sih aku slalu seperti ini,” kata Harris bingung.
“Senyum mu itu palsu. Kamu tersenyum hanya dalam ego kamu sebagai murid teladan, beban yang kamu bawa terlalu banyak hingga kamu memilih untuk sembunyi di balik topeng yang kamu pakai sehari-hari,” ucap Evan panjang lebar.
“Cih, seperti kamu sudah kenal aku dari lama saja,” Harris mendecih pelan namun tak mengelak ucapan Evan yang memang betul adanya. Dia lelah harus mengemban tiap tugas dan kewajiban sebagai “anak teladan, anak kesayangan para guru”, dan lain sebagainya.
“Jadi, kamu masih belum ingat aku?” gumam Evan membuat Harris menaikan satu alisnya, bertanya-tanya.
“Tidak asing ya dengan nama Evan Clarisson?” tanya Evan lagi membuat Harris mengerutkan keningnya untuk berpikir keras.
“Evan Clarisson… Hmmm.. Evan… Clarisson… Clarisson yaa… Seperti tidak asing..” Harris bergumam ditengah-tengah pemikirannya dan Evan dengan tersenyum menunggunya dengan sabar.
“Nama Clarisson sepertinya tidak asing. Itu seperti nama Andy Clarisson dan Andy Clarisson itu nama tetanggaku dulu yang anaknya merupakan-“ Harris tiba-tiba tersentak dan melihat Evan yang tersenyum dengan lembut kepadanya.
“Kita bertemu lagi sahabat,” kata Evan lembut. Harris memeluk badan Evan, sahabat masa kecilnya. Sahabat yang ia pikir hilang ditelan kejamnya letusan gunung berapi. Harris sangat senang dan terharu.
“Setelah kejadian itu kamu kemana? Aku tidak dapat menemukanmu di tempat pengungsian,” tanya Harris setelah mereka menyelesaikan pelukan singkat mereka.
“Aku dipindahkan ke kota yang lain. Maaf, tidak dapat mengabarimu. Semuanya terjadi terlalu mendadak,” jawab Evan menerawang kejadian waktu itu.
Harris hanya tersenyum. Setelah ini ia tidak perlu lagi berpura-pura tegar di depan semua orang, dia punya sahabat yang ada sebagai tempatnya untuk berkeluh kesah.
“Cerita hal seru yang selama ini terjadi dong, kan sudah lama kita tidak bertemu,” pinta Harris pada Evan.
Evan menanggukkan kepalanya, “habis aku cerita gantian kamu ya!”
Lalu beberapa waktu mereka habiskan untuk saling bertukar cerita baru dengan sahabat lama.
Tamat. Terima kasih sudah membaca.
Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.
Komentar
Posting Komentar