Langsung ke konten utama

Cerpen Ibu dan Segala Hebatnya Karya Amelia

 Sejak aku berada di dalam kandungan, Ibu selalu berusaha untuk terlihat tegar. Ia memberikan cinta, kasih sayang dan pengorbanannya yang tulus. Semuanya itu tak akan lekang oleh waktu untuk anak terkasihnya. Bagiku, Ibu adalah malaikat tak bersayap, sosok yang selalu membuatku kagum karena ia luar biasa hebat.

            Ibu siap melakukan apapun demi melihatku bahagia. Ia melindungiku sepenuh hati agar air mata kesedihan tak jatuh di pipiku. Namun, ia juga mendidik ku agar aku bertumbuh menjadi sosok yang kuat dan berharap akan kuat seperti dirinya. Ia adalah sosok teladan bagiku. Inilah kehebatan seorang Ibu, selain mengurus pekerjaan rumah tangga, Ibu juga bekerja untuk membantu Ayah memenuhi kebutuhan rumah tangga. Setiap hari ketika subuh, Ibu memasak dan menyiapkan makanan untuk keluarga. Setelah itu, ia dan Ayah berangkat bekerja disaat bahkan hiruk pikuk kota belum terlalu ramai oleh suara bising kendaraan dan tentunya kemacetan. Setelah detik demi detik terlalui, mereka akhirnya pulang ke rumah setelah matahari mulai membenamkan dirinya.

            Selama Ibu dan Ayah bekerja, aku menghabiskan waktu untuk bersekolah dan membantu orang tua untuk mengurus rumah. Waktu yang paling aku tunggu adalah pada saat malam hari tiba, dimana Ibu dan ayahku pulang bekerja. Setelah Ibu dan Ayah membersihkan diri, kami akan makan bersama. Di sela-sela kegiatan itu, kami sering berbagi cerita tentang hari ini dan juga bercanda bersama. Waktu berkumpul bersama Ibu dan Ayah merupakan hal yang paling menyenangkan. Walaupun sebenarnya Ayah dan Ibu lelah, tetapi mereka selalu tersenyum mendengarkan setiap cerita yang ku keluarkan dari mulutku. Bersama dengan keluarga lengkap adalah hal yang paling berharga dan penuh kehangatan. Aku sangat menyayangi keluarga kecilku ini.

            Namun, terdapat suatu kenyataan yang membuat aku dan Ibu sangat sedih, yaitu Ayah jatuh sakit. Ayah didiagnosa mengidap penyakit gagal ginjal stadium akhir. Ayah sangat terkejut dan tidak siap mendengar pernyataan dokter waktu itu, tetapi Ibu selalu menguatkan Ayah walau sebenarnya Ibu juga tidak siap menghadapi kenyataan. Aku yang mengetahui fakta itu pun hanya bisa berdoa agar keajaiban terjadi pada Ayah. Karena penyakit itu, Ayah harus mendapatkan rawat inap di rumah sakit. Ayah harus cuci darah setidaknya 3 kali dalam seminggu, akhirnya pergerakan Ayah pun dibatasi karena Ayah tidak boleh terlalu lelah dalam melakukan suatu aktivitas.

            Semenjak hari itu, rasanya segalanya menjadi sangat berat bagi keluargaku, kami merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang panjang. Walau sering dilanda cemas, Ibu tetap dengan telaten dan sabar merawat Ayah, ia selalu berada di samping Ayah di kala sakit melanda tubuh Ayah. Walau begitu, Ibu juga tidak lupa akan kewajibannya. Ia pandai membagi waktu antara mengurus rumah tangga, memperhatikanku, dan memenuhi kebutuhan rumah.

            Walau Ayah telah mengurangi kegiatannya, raut mukanya kini selalu seperti orang kelelahan. Melihat itu, hatiku selalu merasa tercubit. Aku ingin menangis setiap melihat hal tersebut. Aku kagum akan Ibu yang tetap tegar merawat Ayah, bahkan hampir tiap waktu berada di sisi Ayah. Tak sekalipun Ibu menangis di hadapan Ayah, sedangkan aku yang baru berkunjung sebentar, tak tiap waktu berada di samping Ayah serasa ingin meraung setiap kali melihat kondisi Ayah.

            Aku tahu Ibu sangat sedih dan ingin menangis setiap kali melihat Ayah meraung kesakitan, tetapi Ibu tetap tersenyum dan berusaha tegar supaya Ayah bisa bertahan. Hingga pada akhirnya, Ayah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa setelah bertahun-tahun merasakan sakit. Kematian Ayah seperti bom waktu bagiku dan Ibu, doa yang sering dipanjatkan dan harapan seakan sia-sia. Aku tahu semua manusia akan kembali ke sisi-Nya namun terasa sakit sekali ketika tahu bahwa orang tersayang telah pergi untuk selama-lamanya. Di satu sisi, aku lega karena Ayah tidak lagi merasakan sakit. Tetapi, bagaimana hidupku dan Ibu setelah kepergian Ayah?

            Hari-hari yang ku lewati terasa sangat berat, terutama bagi Ibu yang selalu menemani Ayah, hancur sekali hatinya. Ibu sempat mengalami shock ketika mendengar kabar kematian Ayah. Ia menolak makanan dan berkomunikasi selepas pemakaman Ayah. Aku paham Ibu butuh waktu untuk sendiri. Selama masa itu, aku diurus oleh nenek. Ibu sempat juga dilarikan ke rumah sakit akibat malnutrisi, dehidrasi, dan stress. Tetapi selepas masa pemulihan, Ibu tahu bahwa tidak baik larut dalam kesedihan karena waktu terus berjalan. Terlebih setelah kepergian Ayah, Ibu menjadi kepala keluarga dan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan mencari uang untuk membiayai pendidikanku. Ia bertanggung jawab akan diriku.

            Tahun demi tahun kerutan di wajah Ibu makin terlihat jelas, umur Ibu juga bukan lagi umur produktif. Aku tahu bahwa sebenarnya Ibu sangat lelah, terkadang merasakan sakit pegal akibat harus bekerja seharian. Selain sebagai pekerja kantoran, saat ini Ibu juga membuka jasa laundry. Sungguh melelahkan, oleh karena itu, tak jarang aku membantu Ibu bekerja. Walau lelah, tetapi Ibu selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja disertai dengan senyuman yang tulus di wajahnya. Namun, jika rasa sakit itu tidak tertahankan Ibu memintaku untuk memijitnya. Aku pernah berniat untuk bekerja agar beban Ibu sedikit berkurang namun Ibu berkata bahwa ia masih mampu untuk membiayai kebutuhanku.

            Sebelum berangkat bekerja Ibu selalu memasak untukku sarapan sampai cukup untuk makan malam. Setelah Ibu pulang bekerja, jarang sekali ada percakapan-percakapan seperti dulu karena sesampainya di rumah Ibu langsung beristirahat, membersihkan badannya yang penuh keringat dan tidur agar kebesokannya badan bugar untuk bekerja kembali. Ibu rela mengorbankan waktu dan tenaganya. Walau begitu aku tetap tidak merasa kesepian atau sendirian sebab Nenek sering berkunjung ke rumah.

            Terkadang sesekali, jika akhir pekan tiba Ibu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu untuk pergi jalan-jalan atau makan bersamaku, agar kebersamaan sebagai keluarga tetap terjalin. Tetapi, aku mengerti mengapa keadaannya menjadi seperti ini karena apapun yang Ibu lakukan semuanya untukku. Kini aku merupakan murid SMA yang akan menjajaki kehidupan di luar sana yang jauh berbeda dari lingkup belajar yang dahulu.

            Ibu selalu mendorongku untuk berkuliah di salah satu Universitas Negeri bergengsi di kotaku. Akan tetapi, jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin membantu Ibu untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Aku tidak ingin lagi merepotkan Ibu. Hal tersebut aku ungkapkan pada Ibu.

            Kecewa adalah jawaban yang aku dapatkan dari raut muka Ibu. Ia telah berjuang keras untuk memfasilitasi segala kebutuhanku namun kali ini aku ingin membalas semua perbuatan baiknya. Ibu marah. Ia sudah mendiamkan aku selama 3 hari. Aku paham, Ibu tak ingin anaknya diremehkan oleh orang-orang di luar sana. Tapi keinginanku berbeda dengan apa yang Ibu mau. Aku ingin membantu Ibu, meringankan segala bebannya.

            Ibu akhirnya menyerahkan segala keputusan mengenai masa depanku pada diriku sendiri sebab nantinya aku sendiri yang akan menjalani itu semua. Walau sebenarnya aku tahu, Ibu masih berharap bahwa aku akan berubah pikiran dan menyetujui harapan Ibu untuk berkuliah.

            Aku memulai berbisnis online kecil, hasilnya memang tak seberapa namun aku tetap tekun menjalankan pekerjaanku tersebut. Setelah bisnis online ku sukses, aku pun mulai membangun bisnis yang lain, yaitu bisnis cafĂ© pastry. Ini merupakan mimpiku sejak dulu.

            Dulu aku selalu tertarik dengan hal-hal berbau pastry dan akhirnya mencoba untuk mengkreasikan resepku sendiri dan berhasil. Kini, aku bisa membangun usaha yang aku nanti-nantikan.

            Selepas usahaku maju pesat, Ibu memilih untuk pensiun dan aku sangat mendukung keputusannya tersebut. Di umur Ibu yang semakin tua ini, aku ingin melihat ia beristirahat dan bersenang-senang.

            Ibu sangat pantas untuk menikmati masa tuanya dengan baik setelah kerja keras yang ia berikan di masa hidupnya dulu. Aku berharap nantinya aku bisa kuat seperti Ibu yang mandiri, Ibu yang multi talenta bisa sebagai seorang Ayah, Ibu yang bisa menahan semua terpaan yang dihadapi. Aku selalu merapalkan doa agar Ibu selalu sehat dan kuat di setiap langkahnya.

Selesai

Komentar